Waktu anda terbatas,
jangan membuangnya dengan hidup dibawah bayang-bayang orang lain
jangan terjebak dogma,yaitu hidup dengan hasil pemikiran orang lain
jangan biarkan suara berisik dan pendapat orang lain meredam suara hati anda
Beranilah, ikuti hati dan intuisi
Bagaimanapun, hati dan nurani sudah tauapa yang anda inginkan, hal-hal lainnya nomor dua.
Thursday, October 6, 2011
Sunday, July 3, 2011
Problematika Dan Solusi Fresh Gradute Magang/ PKL Di Industri Perminyakan
Banyak opini menyatakan para lulusan perguruan tinggi Indonesia umumnya memiliki ilmu yang bagus namun belum memiliki kemampuan untuk terlibat langsung dalam dunia industri, hal ini di sebabkan minimnya pengetahuan dan pengalaman lapangan selama melakukan studi di kampus. Sehingga (khusus dlm oil industry), sebagian besar mahasiswa maupun para dosen pengajar kurang mengetahui proses apa yg terjadi dan dibutuhkan industri perminyakan. Inilah salah satu penyebab tingginya angka pengangguran di tingkat pendidikan tinggi.
Faktor penyebabnya apa ???
1. Rasa kurang menghargai dan diminati kemampuan pengadaan produk dan jasa engineering dalam negeri dari para pegawai nasional pelaku bisnis di industri perminyakan. Terlihat dari banyak keputusan engineering sebagian besar menggunakan resource baik material maupun services dari luar negeri disertai perusahaan asing yang tumbuh subur di Indonesia lengkap dengan tenaga asingnya he2.
2. Masih sedikit hubungan kerjasama resmi antara dunia industri dengan institusi perguruan tinggi khususnya dalam hal research dan teknologi. Diperkuat dengan sulitnya mendapat sponsor/ tempat melakukan studi lapangan bagi mahasiswa, kalaupun ada biasanya waktunya singkat. Banyak pula product research dunia istitusi dihasilkan namun tidak diterapkan (terjual dalam dunia industri) sehingga pada akhirnya menjadi karya bersifat statis dengan banyaknya buku pajangan diperpustakaan.
Lalu Bagaimana Solusinya ???
Dari referensi yang saya baca, banyak perusahaan membuat program magang kerja berkesinambungan bagi lulusan baru (fresh graduate) yang diharapkan dapat menciptakan self driven (kemampuan mandiri) dalam mendapatkan lapangan kerja nantinya. Apalagi kenyataanya tuntutan kerja sangat ketat dimana para pegawai staf dibebani sejumlah target dalam waktu yang singkat dibuthkan kerja extra.
Dengan program kerja magang, para peserta magang perlu diciptakan dan ditumbuhkan pola berpikir dalam suasana dunia bisnis perminyakan, peserta secara langsung masuk dalam proses kerja sehari-hari dibimbing oleh tenaga staf internal yang berpengalaman dan memerlukan bantuan jasa engineering. Dengan periode tertentu setelah memiliki tingkat pengetahuan yang cukup baru peserta dikirim ke lapangan belajar operasi nyata lapangan. Yang perlu diperhatikan adalah perhatian dan bimbingan pegawai staf yang berpengalaman menjadi kunci keberhasilan sebagai transfer skill terhadap peserta magang.
4 Tahap Proses Kerja Magang :
1. Pengenalan dunia industri perminyakan
Tahap perkenalan/ presentasi yang diberikan kepada peserta magang berupa daerah operasi, safety regulation serta operasi-operasi lapangan dan problematikanya.
2. Data Clean-Up
Perkenalan untuk bekerja dalam melihat dan menganalisa data operasi bersifat terbatas, sehingga peserta magang dapat mendalami dan mengetahui alur bisnis perminyakan. Komunikasi langsung dengan orang-orang lapangan penting dan menjadi sumber keabsahan analisa data yang diperoleh.
3. Kerja Lapangan
Peserta magang dikirim ke lapangan untuk terlibat langsung dalam operasi produksi sehari-hari dilapangan.
4. Self driven
Kemampuan mandiri dalam melakukan operasi kerja yang diharapkan bisa menggantikan posisi kerja rutinitas pegawai dikantor.
Cakupan bidang kerja meliputi ; Operasi fasilitas produksi (Kompressor, Separator, gas Scrubber, Generator dll), Process Control System, Well maintenance (Slick Line, SCADA system interfacing (pembuatan program-program kecil) dan validasi data-data produksi dan drilling.
Kegiatan lapangan penting pengaruhnya terhadap pengembangan pola pikir dalam melihat dunia industri perminyakan yang sebenarnya.
Apa Keuntungannya ???
Para peserta magang mendapatkan pengalaman kerja yang setara dengan kebutuhan dunia industri perminyakan sehingga memiliki nilai jual tinggi (SDM yang siap pakai), sedangkan bagi perusahaan membantu para karyawannya dalam menyelesaikan tugas sehari-hari lebih cepat.
Program magang menjadi ajang melatih jiwa kepemimpinandari pegawai staf perusahaan. Secara tidak langsung pola win win dapat menciptakan image perusahaan yang memiliki kepedulian yang tinggi dalam pengembangan SDM. (dikutip dari PAPER IATMI oleh Subardiyana)
Faktor penyebabnya apa ???
1. Rasa kurang menghargai dan diminati kemampuan pengadaan produk dan jasa engineering dalam negeri dari para pegawai nasional pelaku bisnis di industri perminyakan. Terlihat dari banyak keputusan engineering sebagian besar menggunakan resource baik material maupun services dari luar negeri disertai perusahaan asing yang tumbuh subur di Indonesia lengkap dengan tenaga asingnya he2.
2. Masih sedikit hubungan kerjasama resmi antara dunia industri dengan institusi perguruan tinggi khususnya dalam hal research dan teknologi. Diperkuat dengan sulitnya mendapat sponsor/ tempat melakukan studi lapangan bagi mahasiswa, kalaupun ada biasanya waktunya singkat. Banyak pula product research dunia istitusi dihasilkan namun tidak diterapkan (terjual dalam dunia industri) sehingga pada akhirnya menjadi karya bersifat statis dengan banyaknya buku pajangan diperpustakaan.
Lalu Bagaimana Solusinya ???
Dari referensi yang saya baca, banyak perusahaan membuat program magang kerja berkesinambungan bagi lulusan baru (fresh graduate) yang diharapkan dapat menciptakan self driven (kemampuan mandiri) dalam mendapatkan lapangan kerja nantinya. Apalagi kenyataanya tuntutan kerja sangat ketat dimana para pegawai staf dibebani sejumlah target dalam waktu yang singkat dibuthkan kerja extra.
Dengan program kerja magang, para peserta magang perlu diciptakan dan ditumbuhkan pola berpikir dalam suasana dunia bisnis perminyakan, peserta secara langsung masuk dalam proses kerja sehari-hari dibimbing oleh tenaga staf internal yang berpengalaman dan memerlukan bantuan jasa engineering. Dengan periode tertentu setelah memiliki tingkat pengetahuan yang cukup baru peserta dikirim ke lapangan belajar operasi nyata lapangan. Yang perlu diperhatikan adalah perhatian dan bimbingan pegawai staf yang berpengalaman menjadi kunci keberhasilan sebagai transfer skill terhadap peserta magang.
4 Tahap Proses Kerja Magang :
1. Pengenalan dunia industri perminyakan
Tahap perkenalan/ presentasi yang diberikan kepada peserta magang berupa daerah operasi, safety regulation serta operasi-operasi lapangan dan problematikanya.
2. Data Clean-Up
Perkenalan untuk bekerja dalam melihat dan menganalisa data operasi bersifat terbatas, sehingga peserta magang dapat mendalami dan mengetahui alur bisnis perminyakan. Komunikasi langsung dengan orang-orang lapangan penting dan menjadi sumber keabsahan analisa data yang diperoleh.
3. Kerja Lapangan
Peserta magang dikirim ke lapangan untuk terlibat langsung dalam operasi produksi sehari-hari dilapangan.
4. Self driven
Kemampuan mandiri dalam melakukan operasi kerja yang diharapkan bisa menggantikan posisi kerja rutinitas pegawai dikantor.
Cakupan bidang kerja meliputi ; Operasi fasilitas produksi (Kompressor, Separator, gas Scrubber, Generator dll), Process Control System, Well maintenance (Slick Line, SCADA system interfacing (pembuatan program-program kecil) dan validasi data-data produksi dan drilling.
Kegiatan lapangan penting pengaruhnya terhadap pengembangan pola pikir dalam melihat dunia industri perminyakan yang sebenarnya.
Apa Keuntungannya ???
Para peserta magang mendapatkan pengalaman kerja yang setara dengan kebutuhan dunia industri perminyakan sehingga memiliki nilai jual tinggi (SDM yang siap pakai), sedangkan bagi perusahaan membantu para karyawannya dalam menyelesaikan tugas sehari-hari lebih cepat.
Program magang menjadi ajang melatih jiwa kepemimpinandari pegawai staf perusahaan. Secara tidak langsung pola win win dapat menciptakan image perusahaan yang memiliki kepedulian yang tinggi dalam pengembangan SDM. (dikutip dari PAPER IATMI oleh Subardiyana)
Sunday, June 5, 2011
Apa bedanya CV dengan Resume?

Perbedaan utama Curriculum Vitae (CV) dengan resume terletak pada panjangnya, isinya, dan tujuannya. Resume adalah ringkasan pendek (satu atau dua halaman) berisi rangkuman kemampuan Anda, pengalaman Anda, dan pendidikan Anda. Tujuan menulis resume adalah memberikan sesuatu yang ringkas dan padat, karena, pembaca resume hanya punya waktu sedikit untuk melihat kualifikasi Anda.
CV adalah versi yang lebih panjang (lebih dari dua halaman), yang merupakan sinopsis yang lebih detail. Di sini termasuk ringkasan latarbelakang akademis dan pendidikan serta pengalaman riset dan mengajar Anda, semua publikasi, presentasi, penghargaan, afiliasi, dan detil-detil lain.
Apa yang harus dicantumkan dalam CV?
Seperti halnya resume, CV Anda perlu mencantumkan nama, informasi kontak, pendidikan, keahlian, dan pengalaman Anda. Sebagai informasi tambahan, dapat dicantumkan pengalaman mengajar dan riset, publikasi, beasiswa, lisensi profesional, penghargaan dan semua informasi lain yang relevan terhadap posisi yang Anda lamar.
Mulailah dengan membuat daftar semua informasi tersebut, lalu disusun sesuai dengan kategorinya. Pastikan Anda mencantumkan tanggal pada semua publikasi yang Anda tampilkan.
Kapan menggunakan CV?
Di Amerika CV digunakan ketika melamar pada posisi-posisi riset, ilmiah, pendidikan, dan akademis, atau ketika melamar beasiswa. Sama halnya seperti resume, Anda akan perlu versi CV yang berbeda-beda untuk melamar pada posisi yang berbeda.
Di Indonesia, ikutilah permintaan dalam lowongan pekerjaan, apakah mereka meminta CV atau resume?
Tuesday, April 12, 2011
Kiat-Kiat Pengembangan Diri
16 Cara Praktis Untuk Mengembangkan Diri
Banyak orang yang ingin berkembang, tapi banyak juga dari mereka yang bingung bagaiamana atau darimana harus memulai. Berikut 16 cara praktis untuk membantu anda dalam mengembangkan kemampuan diri.
1. Membaca buku setiap hari
Tidak ada cara yang lebih mudah dalam menambah pengetahuan untuk mengembangkan diri kecuali membaca buku. Membaca buku setiap hari akan membuka wawasan dan pengetahuan anda mengenai ilmu-ilmu pengembangan diri yang sedang tren saat ini.
2. Mempelajari bahasa baru
Berapa banyak bahasa yang anda kuasai saat ini? tiga? empat? atau lima bahasa? Semakin banyak bahasa yang anda kuasai, maka semakin tinggilah nilai jual anda, dan tentu saja otak anda akan lebih bermafaat.
3. Cari hobi baru
Jangan pernah meremehkan hobi, jika anda merasa hobi adalah aktifitas buang-buang waktu, maka anda harus berfikir ulang. Selain bisa membuat rileks yang akhirnya berimbas pada ‘kesegaran’ pikiran, hobi juga bisa menghasilkan keuntungan, baik materi atau tidak.
Carilah hobi baru, jika anda suka olahraga dan penyuka futsal, maka pelajari juga olahraga lain seperti renang misalnya.
4. Ambillah kursus
Mengikuti kursus merupakan cara lain untuk mengembangkan kemampuan anda.
5. Cipatakan ruangan ‘kreatif’
Ruangan yang kreatif akan merangsang otak kita untuk menciptakan sesuatu yang kreatif juga. Buatlah ruang kerja anda ‘berbeda’, jangan hanya sebuah ruangan kotak yang menjemukan yang seolah-olah mengusir anda untuk segera pulang.
6. Tingkatkan kemampuan anda
Sejauh mana kemampuan Public Speaking anda? atau sudah berapa teknik wawancara yang anda kuasai? Tingkatkan kemampuan yang anda miliki hingga anda merasa ahli pada kemampuan tersebut. Jangan pernah berhenti untuk terus mengembangkan kemampuan anda.
7. Bangun lebih pagi
Jika anda bangun lebih pagi itu artinya waktu untuk mengerjakan hal-hal produktif ikut bertambah.
8. Miliki waktu olaharaga secara rutin
Kemampuan sebaik apapun tidak akan bisa maksimal jika kondisi badan anda tidak sehat. Buatlah waktu rutin untuk berolahraga, jangan sampai kemampuan anda tertutup penyakit yang sering menghampiri tubuh anda.
9. Menulis
Menulis merupakan salah satu aktifitas yang mampu mengasah kemampuan otak anda secara penuh. Jurnal, buku atau blog bisa menjadi alternatif untuk memulai tulisan pertama anda.
10. Keluar dari rutinitas
Salah satu hal yang membuat kreatifitas macet adalah rutinitas. Keluarlah dari rutinitas anda. Contoh sederhana, cobalah anda berangkat ke kantor dengan rute yang berbeda dari biasanya.
11. Mintalah umpan balik
Umpan balik atau feedback merupakan hal penting untuk mengukur sejauh mana hasil yang anda dapat. Mintalah umpan balik dari rekan kerja atau keluarga dan gunakan hal itu sebagai acuan untuk mengembangkan kemampuan diri anda.
12. Belajar dari orang lain
“Bahkan orang bodoh-pun bisa benar”, demikian kira-kira istilah yang tepat untuk menggambarkan point ini. Setiap orang unik dan setiap orang merupakan guru bagi kita. Jangan merasa bahwa anda merasa lebih pintar dalam segala hal, tetaplah rendah hati dan mau membuka diri terhadap orang lain.
13. Keluar dari kebiasaan buruk
Sering terlambat masuk kantor? atau sering mengingkari janji? itu adalah beberapa contoh kebiasaan buruk. Segera tinggalkan kebiasaan-kebiasaan buruk anda. Kebiasaan buruk sekecil apapun bisa mengakibatkan hambatan dalam mengembangkan kemampuan anda.
14. Mulailah berbisnis
Berbisnis merupakan suatu hal yang sangat menantang. Banyak pengalaman yang akan anda dapatkan dari berbisnis. Jadi jangan ragu, walaupun kecil, belajarlah untuk berbisnis.
15. Tentukan waktu istirahat
Manusia memiliki batas, bahkan mesin-pun butuh istirahat. Atur waktu istirahat anda, dan tepati itu.
16. Patuhi komitmen
Sebaik apapun rencana yang anda buat, sebaik apapun tools dan fasilitas yang anda punya, tanpa sebuah komitmen maka rencana dan mimpi anda mustahil untuk terwujud. Jaga selalu komitmen dan konsisten pada mimpi dan tujuan anda. (dikutip dari Kaskus.com by Menuku)
Banyak orang yang ingin berkembang, tapi banyak juga dari mereka yang bingung bagaiamana atau darimana harus memulai. Berikut 16 cara praktis untuk membantu anda dalam mengembangkan kemampuan diri.
1. Membaca buku setiap hari
Tidak ada cara yang lebih mudah dalam menambah pengetahuan untuk mengembangkan diri kecuali membaca buku. Membaca buku setiap hari akan membuka wawasan dan pengetahuan anda mengenai ilmu-ilmu pengembangan diri yang sedang tren saat ini.
2. Mempelajari bahasa baru
Berapa banyak bahasa yang anda kuasai saat ini? tiga? empat? atau lima bahasa? Semakin banyak bahasa yang anda kuasai, maka semakin tinggilah nilai jual anda, dan tentu saja otak anda akan lebih bermafaat.
3. Cari hobi baru
Jangan pernah meremehkan hobi, jika anda merasa hobi adalah aktifitas buang-buang waktu, maka anda harus berfikir ulang. Selain bisa membuat rileks yang akhirnya berimbas pada ‘kesegaran’ pikiran, hobi juga bisa menghasilkan keuntungan, baik materi atau tidak.
Carilah hobi baru, jika anda suka olahraga dan penyuka futsal, maka pelajari juga olahraga lain seperti renang misalnya.
4. Ambillah kursus
Mengikuti kursus merupakan cara lain untuk mengembangkan kemampuan anda.
5. Cipatakan ruangan ‘kreatif’
Ruangan yang kreatif akan merangsang otak kita untuk menciptakan sesuatu yang kreatif juga. Buatlah ruang kerja anda ‘berbeda’, jangan hanya sebuah ruangan kotak yang menjemukan yang seolah-olah mengusir anda untuk segera pulang.
6. Tingkatkan kemampuan anda
Sejauh mana kemampuan Public Speaking anda? atau sudah berapa teknik wawancara yang anda kuasai? Tingkatkan kemampuan yang anda miliki hingga anda merasa ahli pada kemampuan tersebut. Jangan pernah berhenti untuk terus mengembangkan kemampuan anda.
7. Bangun lebih pagi
Jika anda bangun lebih pagi itu artinya waktu untuk mengerjakan hal-hal produktif ikut bertambah.
8. Miliki waktu olaharaga secara rutin
Kemampuan sebaik apapun tidak akan bisa maksimal jika kondisi badan anda tidak sehat. Buatlah waktu rutin untuk berolahraga, jangan sampai kemampuan anda tertutup penyakit yang sering menghampiri tubuh anda.
9. Menulis
Menulis merupakan salah satu aktifitas yang mampu mengasah kemampuan otak anda secara penuh. Jurnal, buku atau blog bisa menjadi alternatif untuk memulai tulisan pertama anda.
10. Keluar dari rutinitas
Salah satu hal yang membuat kreatifitas macet adalah rutinitas. Keluarlah dari rutinitas anda. Contoh sederhana, cobalah anda berangkat ke kantor dengan rute yang berbeda dari biasanya.
11. Mintalah umpan balik
Umpan balik atau feedback merupakan hal penting untuk mengukur sejauh mana hasil yang anda dapat. Mintalah umpan balik dari rekan kerja atau keluarga dan gunakan hal itu sebagai acuan untuk mengembangkan kemampuan diri anda.
12. Belajar dari orang lain
“Bahkan orang bodoh-pun bisa benar”, demikian kira-kira istilah yang tepat untuk menggambarkan point ini. Setiap orang unik dan setiap orang merupakan guru bagi kita. Jangan merasa bahwa anda merasa lebih pintar dalam segala hal, tetaplah rendah hati dan mau membuka diri terhadap orang lain.
13. Keluar dari kebiasaan buruk
Sering terlambat masuk kantor? atau sering mengingkari janji? itu adalah beberapa contoh kebiasaan buruk. Segera tinggalkan kebiasaan-kebiasaan buruk anda. Kebiasaan buruk sekecil apapun bisa mengakibatkan hambatan dalam mengembangkan kemampuan anda.
14. Mulailah berbisnis
Berbisnis merupakan suatu hal yang sangat menantang. Banyak pengalaman yang akan anda dapatkan dari berbisnis. Jadi jangan ragu, walaupun kecil, belajarlah untuk berbisnis.
15. Tentukan waktu istirahat
Manusia memiliki batas, bahkan mesin-pun butuh istirahat. Atur waktu istirahat anda, dan tepati itu.
16. Patuhi komitmen
Sebaik apapun rencana yang anda buat, sebaik apapun tools dan fasilitas yang anda punya, tanpa sebuah komitmen maka rencana dan mimpi anda mustahil untuk terwujud. Jaga selalu komitmen dan konsisten pada mimpi dan tujuan anda. (dikutip dari Kaskus.com by Menuku)
Monday, April 11, 2011
Agar Ilmu Terus Terjaga
--Sufyan bin Utaibah pernah berkata:”Jauhilah penyakit seorang pintar yang sesat dan penyakit seorang ahli ibadah yang bodoh, karena penyakit dari dua macam orang ini merupakan penyakit yang menyesatkan. Orang ahli ibadah yang bodoh menolak ilmu dan implikasinya. Inilah merupakan kesesatan yang menyebabkan kedustaan agama.” (Ibn al-Qayyim al-Jauziyah dalam al-Fawa’id).
Banyak kasus dijumpai, seorang terpelajar akan tetapi mengikuti aliran sesat. Tidak sedikit pula ilmuan yang mendukung pemikiran-pemikiran di luar Islam. Mereka semua adalah orang yang terpelajar dari institusi berlabel Islam, terdidik sampai pada level tinggi.
Menurut Ibn Qayyim al-Jauziyyah, orang seperti mereka sesungguhnya bukan orang pintar. Sebab mereka menentang ilmu dan hukum-hukumnya, dan lebih mengutamakan khayalan, kesukaan dan hawa nafsu. (Ibn Qayyim al-Jauziyyah dalam al-Fawa’id).
Setiap muslim mestinya selalu berstatus pelajar (muta’allim), apapun profesinya dan berapapun usianya. “Tuntutlah ilmu hingga liang lahat!” adalah seruan agar kita jangan sekali-kali melepaskan status sebagai pelajar. Bahkan seorang yang telah bergelar KIai, Profesor dan doktor tetap harus belajar.
Saat mereka ‘pensiun’ jadi pelajar, maka ilmunya akan mati. Tidak berkembang dan tidak ada tambahan ilmu. Makanya, profesi menjadi pelajar adalah sepanjang masa. Pelajar bukan hanya yang belajar di lembaga sekolah, pesantren, dan perguruan tinggi. Di manapun dan kapanpun kita bisa dan wajib berstatus menjadi pelajar.
Akan tetapi ada petunjuk yang harus diperhatikan agar tidak menjadi pelajar yang merugi.Terdapat tiga hal yang perlu diperhatikan dalam hal ini yaitu, niat, jenis ilmu dan cara memperolehnya harus benar. Jika tidak, maka akibatnya akan tersesat.
“Barangsiapa ilmunya bertambah, namun tidak bertambah petunjuk, maka ia akan semakin jauh dari Allah.” (HR. Abu Nu’aim). Saat kita jauh dari-Nya, maka kita menjadi dzalim.
Kedzaliman seorang ilmuan dan pemimpin bermula dari niat belajar yang salah dan ketidaktepatan memposisikan ilmu ketika belajar. Ilmu yang agung tidak semestinya dicampur dengan tujuan dan niatan yang hina. Antar yang haq dan yang batil jelas tidak mungkin bertemu.
Berdasarkan niat belajar, Imam al-Ghazali membagi orang menuntut ilmu menjadi tiga. Pertama, belajar semata-mata karena ingin mendapat bekal menuju kebahagiaan akhirat. Kedua, belajar dengan niat mencari kemuliaan dan popularitas duniawi.Ketiga, menuntut ilmu sebagai sarana memperbanyak harta (Bidayatul Hidayah, hlm.6).
Golongan pertama, adalah golongan selamat sedangkan tipe kedua dan ketiga termasuk berpotensi menjadi pemimpin dan ilmuan yang dzalim. Golongan pertama termasuk pelajar yang memahami konsep ilmu dengan benar, niatannya untuk menghilangkan kejahilan agar mendapat ridla Allah SWT. Keilmuannya diamalkan demi kemaslahatan umat bukan untuk kenikmatan pribadi.
Golongan kedua dan ketiga adalah kelompok penuntut ilmu yang materialis, yaitu mencari ilmu untuk tujuan duniawi. Sehingga aspek-aspek ukhrawi tidak menjadi landasan dalam mencari ilmu. Jika materialisme sebagai kerangka pikirnya, maka menurut Imam al-Ghazali ia kelak akan menjadi ulama’ suu’ (ilmuan jahat) yang tidak mengindahkan adab.
Pemisahan aspek ukhrawi dan aspek duniawi dalam menuntut ilmu akan mengakibatkan kekacauan ilmu. Ilmu yang kacau melahirkan pelajar yang jahil. Kejahilan itu bukan sekedar kekurangan ilmu, akan tetapi kacaunya ilmu (confusion of knowledge). Kekacauan ilmu terjadi ketika informasi-informasi yang salah dipelajari kemudian diyakini sebagai kebenaran.
Ilmu menjadi kacau ketika kehilangan bimbingan adab dan kemasukan konsep materialisme. Menurut Syed Naquib al-Attas, ilmu-ilmu yang telah tercampur dengan konsep ‘asing’ itu hakikatnya bukan ilmu lagi, akan tetapi sesuatu yang menyamar sebagai ilmu (Risalah Untuk Kaum Muslimin, 61). Jadi ilmu yang hakiki adalah yang tidak melepaskan dimensi ukhrawi, sedangkan ‘ilmu’ yang menyamar adalah sebaliknya yang disebut ilmu madzmumah.
Berkenaan dengan itu, penting diketahui oleh para para pelajar dan guru bahwa ilmu secara hirarkis dibagi dua. Pertama, ilmu Pengenalan. Yaitu ilmu tentang hakikat ruhaniah yang merujuk kepadan Allah dan diri. Seperti ilmu tauhid, dan ilmu yang berkenaan dengan ibadah. Ilmu ini termasuk yang wajib dipelajari oleh setiap muslim. Ilmu jenis ini oleh Imam al-Ghazali disebut ilmu fardlu ‘ain.
Kedua, ilmu Pengetahuan. Yaitu ilmu pencapaian akal yang merujuk kepada segala perkara baik bagi diri ruhaniyah maupun diri jasmaniah. Ilmu ini termasuk ilmu yang wajib dituntut oleh sebagian muslim saja yang telah memenuhi syarat-syarat menuntutnya. Ilmu ini oleh Imam al-Ghazali disebut ilmu fardlu kifayah.
Salah satu faktor kenapa lahir ilmuan yang dzalim adalah kesalahan mengajarkan dua ilmu tadi. Semua jenis ilmu Pengetahuan yang hukumnya fardlu kifayah diajarkan harus berdasar dan sesuai dengan ilmu Pengenalan.
Selain itu, pengajaran ilmu Pengenalan (fardlu ‘ain) harus didahulukan sebelum ilmu fardlu kifayah.
Belajar haruslah disertai niat yang benar. Selain itu, ilmu yang dipelajari juga harus bukan ilmu madzmumah (dicela). Jika niat dan ilmunya salah, maka sepintar apapun, manusia itu akan menjadi orang yang bermasalah di masyarakat.
Rasulullah SAW mengingatkan bahwa orang yang belajar demi kebanggan agar disebut cendekiawan agung, menyaingi teman, mencari popularitas dan memperbanyak harta akan menjadi manusia yang celaka. (HR.Ibn Majah).
Pelajar dengan tipe ini, ia tidak peduli lagi apakah ilmu yang dipelajari benar atau salah, yang penting ‘sukses’ bagi dia.
Wahyu
Ilmu yang benar selalu dikawal oleh wahyu. Sebab, sumber ilmu itu dari Allah SWT. Dan hakikat mencari ilmu adalah meraih kebahagiaan, sedangkan kebahagiaan tertinggi adalah keselamatan di akhirat. Dalam perspektif Islam, ilmu bukanlah sebagai perkara akliah (rasio) belaka. Islam menjelaskan ilmu, baik ilmu syari’ah atau sains dan humaniora, dengan perkaitan antara ilmu itu dengan hikmah, akhlak budi pekerti. Pemahaman yang demikian mencegah lahirnya ilmuan dan pemimpin yang dzalim.
Lantas, bagaimana kiat menjadi pelajar muslim yang sukses? Pertama, perbaiki niat. Segala aktifitas keilmuan adalah semata demi mendapatkan kebahagiaan (sa’adah) akhirat. Artinya, niat untuk berjuang li i’laa’i kalimatillah.
Kedua, ilmu yang dipelajari harus benar. Ketiga, cara meperolehnya juga benar. Apapun niat dan semulya apapun ilmunya jika ditempuh dengan korupsi, menipu atau dengan cara ritual-ritual yang sesat, tetap akan menjauhkan dari Allah.
Selain itu, Imam al-Ghazali memberi rambu-rambu, carilah guru yang baik. Yaitu, ulama’ yang hidupnya berkonsentrasi kepada ilmu, akhirat, tidak menyibukkan secara membabi-buta kepada dunia, tidak menjual agama dengan dunia, segala persoalan dikembalikan kepada perspektif akhirat (Abu Hamid al-Ghazali dalam Iljam al-awam ‘an Ilmi Kalam).
Selain itu, para ulama’ salaf memberi contoh paling baik. Sebisa mungkin menghindar dari maksiat. Imam syafi’i juga pernah mengatakan: ilmu itu cahaya, dan cahaya Allah tidak akan masuk kedalam hati orang-orang yang selalu bermaksiat.
Ibadah juga betul-betul dijaga. Imam al-Bukhari belajar selalu dalam keadaan suci, bahkan ketika akan menulispun ia ambil wudlu dan shalat sunnah terlebih dahulu. Shalat malam (qiyamullail) bagi para pelajar salaf shalih dahulu seperti menjadi aktifitas wajib. Demi menjaga diri agar selalu dibawah petunjuk-Nya. Bahkan, belajar di sepertiga malam itu menjadi kebiasaan.
Khatib Al-Baghdadi pernah memberi nasihat, “Waktu yang paling baik untuk menghafaladalah waktu sahur, di tengah hari, kemudian pagi hari. Menghafal di waktu malam lebih baik dari pada siang. Itulah rahasia sukses para ulama terdahulu kita.” (Al-Faqih wal Mutafakiq).
Dan rutinitas beginilah yang menjadi aktifitas wajib pelajar muslim idaman. Wallahu a’lam bissahowab. (dikutip dari Hidayatullah.com by Kholili Hasib).
Banyak kasus dijumpai, seorang terpelajar akan tetapi mengikuti aliran sesat. Tidak sedikit pula ilmuan yang mendukung pemikiran-pemikiran di luar Islam. Mereka semua adalah orang yang terpelajar dari institusi berlabel Islam, terdidik sampai pada level tinggi.
Menurut Ibn Qayyim al-Jauziyyah, orang seperti mereka sesungguhnya bukan orang pintar. Sebab mereka menentang ilmu dan hukum-hukumnya, dan lebih mengutamakan khayalan, kesukaan dan hawa nafsu. (Ibn Qayyim al-Jauziyyah dalam al-Fawa’id).
Setiap muslim mestinya selalu berstatus pelajar (muta’allim), apapun profesinya dan berapapun usianya. “Tuntutlah ilmu hingga liang lahat!” adalah seruan agar kita jangan sekali-kali melepaskan status sebagai pelajar. Bahkan seorang yang telah bergelar KIai, Profesor dan doktor tetap harus belajar.
Saat mereka ‘pensiun’ jadi pelajar, maka ilmunya akan mati. Tidak berkembang dan tidak ada tambahan ilmu. Makanya, profesi menjadi pelajar adalah sepanjang masa. Pelajar bukan hanya yang belajar di lembaga sekolah, pesantren, dan perguruan tinggi. Di manapun dan kapanpun kita bisa dan wajib berstatus menjadi pelajar.
Akan tetapi ada petunjuk yang harus diperhatikan agar tidak menjadi pelajar yang merugi.Terdapat tiga hal yang perlu diperhatikan dalam hal ini yaitu, niat, jenis ilmu dan cara memperolehnya harus benar. Jika tidak, maka akibatnya akan tersesat.
“Barangsiapa ilmunya bertambah, namun tidak bertambah petunjuk, maka ia akan semakin jauh dari Allah.” (HR. Abu Nu’aim). Saat kita jauh dari-Nya, maka kita menjadi dzalim.
Kedzaliman seorang ilmuan dan pemimpin bermula dari niat belajar yang salah dan ketidaktepatan memposisikan ilmu ketika belajar. Ilmu yang agung tidak semestinya dicampur dengan tujuan dan niatan yang hina. Antar yang haq dan yang batil jelas tidak mungkin bertemu.
Berdasarkan niat belajar, Imam al-Ghazali membagi orang menuntut ilmu menjadi tiga. Pertama, belajar semata-mata karena ingin mendapat bekal menuju kebahagiaan akhirat. Kedua, belajar dengan niat mencari kemuliaan dan popularitas duniawi.Ketiga, menuntut ilmu sebagai sarana memperbanyak harta (Bidayatul Hidayah, hlm.6).
Golongan pertama, adalah golongan selamat sedangkan tipe kedua dan ketiga termasuk berpotensi menjadi pemimpin dan ilmuan yang dzalim. Golongan pertama termasuk pelajar yang memahami konsep ilmu dengan benar, niatannya untuk menghilangkan kejahilan agar mendapat ridla Allah SWT. Keilmuannya diamalkan demi kemaslahatan umat bukan untuk kenikmatan pribadi.
Golongan kedua dan ketiga adalah kelompok penuntut ilmu yang materialis, yaitu mencari ilmu untuk tujuan duniawi. Sehingga aspek-aspek ukhrawi tidak menjadi landasan dalam mencari ilmu. Jika materialisme sebagai kerangka pikirnya, maka menurut Imam al-Ghazali ia kelak akan menjadi ulama’ suu’ (ilmuan jahat) yang tidak mengindahkan adab.
Pemisahan aspek ukhrawi dan aspek duniawi dalam menuntut ilmu akan mengakibatkan kekacauan ilmu. Ilmu yang kacau melahirkan pelajar yang jahil. Kejahilan itu bukan sekedar kekurangan ilmu, akan tetapi kacaunya ilmu (confusion of knowledge). Kekacauan ilmu terjadi ketika informasi-informasi yang salah dipelajari kemudian diyakini sebagai kebenaran.
Ilmu menjadi kacau ketika kehilangan bimbingan adab dan kemasukan konsep materialisme. Menurut Syed Naquib al-Attas, ilmu-ilmu yang telah tercampur dengan konsep ‘asing’ itu hakikatnya bukan ilmu lagi, akan tetapi sesuatu yang menyamar sebagai ilmu (Risalah Untuk Kaum Muslimin, 61). Jadi ilmu yang hakiki adalah yang tidak melepaskan dimensi ukhrawi, sedangkan ‘ilmu’ yang menyamar adalah sebaliknya yang disebut ilmu madzmumah.
Berkenaan dengan itu, penting diketahui oleh para para pelajar dan guru bahwa ilmu secara hirarkis dibagi dua. Pertama, ilmu Pengenalan. Yaitu ilmu tentang hakikat ruhaniah yang merujuk kepadan Allah dan diri. Seperti ilmu tauhid, dan ilmu yang berkenaan dengan ibadah. Ilmu ini termasuk yang wajib dipelajari oleh setiap muslim. Ilmu jenis ini oleh Imam al-Ghazali disebut ilmu fardlu ‘ain.
Kedua, ilmu Pengetahuan. Yaitu ilmu pencapaian akal yang merujuk kepada segala perkara baik bagi diri ruhaniyah maupun diri jasmaniah. Ilmu ini termasuk ilmu yang wajib dituntut oleh sebagian muslim saja yang telah memenuhi syarat-syarat menuntutnya. Ilmu ini oleh Imam al-Ghazali disebut ilmu fardlu kifayah.
Salah satu faktor kenapa lahir ilmuan yang dzalim adalah kesalahan mengajarkan dua ilmu tadi. Semua jenis ilmu Pengetahuan yang hukumnya fardlu kifayah diajarkan harus berdasar dan sesuai dengan ilmu Pengenalan.
Selain itu, pengajaran ilmu Pengenalan (fardlu ‘ain) harus didahulukan sebelum ilmu fardlu kifayah.
Belajar haruslah disertai niat yang benar. Selain itu, ilmu yang dipelajari juga harus bukan ilmu madzmumah (dicela). Jika niat dan ilmunya salah, maka sepintar apapun, manusia itu akan menjadi orang yang bermasalah di masyarakat.
Rasulullah SAW mengingatkan bahwa orang yang belajar demi kebanggan agar disebut cendekiawan agung, menyaingi teman, mencari popularitas dan memperbanyak harta akan menjadi manusia yang celaka. (HR.Ibn Majah).
Pelajar dengan tipe ini, ia tidak peduli lagi apakah ilmu yang dipelajari benar atau salah, yang penting ‘sukses’ bagi dia.
Wahyu
Ilmu yang benar selalu dikawal oleh wahyu. Sebab, sumber ilmu itu dari Allah SWT. Dan hakikat mencari ilmu adalah meraih kebahagiaan, sedangkan kebahagiaan tertinggi adalah keselamatan di akhirat. Dalam perspektif Islam, ilmu bukanlah sebagai perkara akliah (rasio) belaka. Islam menjelaskan ilmu, baik ilmu syari’ah atau sains dan humaniora, dengan perkaitan antara ilmu itu dengan hikmah, akhlak budi pekerti. Pemahaman yang demikian mencegah lahirnya ilmuan dan pemimpin yang dzalim.
Lantas, bagaimana kiat menjadi pelajar muslim yang sukses? Pertama, perbaiki niat. Segala aktifitas keilmuan adalah semata demi mendapatkan kebahagiaan (sa’adah) akhirat. Artinya, niat untuk berjuang li i’laa’i kalimatillah.
Kedua, ilmu yang dipelajari harus benar. Ketiga, cara meperolehnya juga benar. Apapun niat dan semulya apapun ilmunya jika ditempuh dengan korupsi, menipu atau dengan cara ritual-ritual yang sesat, tetap akan menjauhkan dari Allah.
Selain itu, Imam al-Ghazali memberi rambu-rambu, carilah guru yang baik. Yaitu, ulama’ yang hidupnya berkonsentrasi kepada ilmu, akhirat, tidak menyibukkan secara membabi-buta kepada dunia, tidak menjual agama dengan dunia, segala persoalan dikembalikan kepada perspektif akhirat (Abu Hamid al-Ghazali dalam Iljam al-awam ‘an Ilmi Kalam).
Selain itu, para ulama’ salaf memberi contoh paling baik. Sebisa mungkin menghindar dari maksiat. Imam syafi’i juga pernah mengatakan: ilmu itu cahaya, dan cahaya Allah tidak akan masuk kedalam hati orang-orang yang selalu bermaksiat.
Ibadah juga betul-betul dijaga. Imam al-Bukhari belajar selalu dalam keadaan suci, bahkan ketika akan menulispun ia ambil wudlu dan shalat sunnah terlebih dahulu. Shalat malam (qiyamullail) bagi para pelajar salaf shalih dahulu seperti menjadi aktifitas wajib. Demi menjaga diri agar selalu dibawah petunjuk-Nya. Bahkan, belajar di sepertiga malam itu menjadi kebiasaan.
Khatib Al-Baghdadi pernah memberi nasihat, “Waktu yang paling baik untuk menghafaladalah waktu sahur, di tengah hari, kemudian pagi hari. Menghafal di waktu malam lebih baik dari pada siang. Itulah rahasia sukses para ulama terdahulu kita.” (Al-Faqih wal Mutafakiq).
Dan rutinitas beginilah yang menjadi aktifitas wajib pelajar muslim idaman. Wallahu a’lam bissahowab. (dikutip dari Hidayatullah.com by Kholili Hasib).
Subscribe to:
Posts (Atom)